/**Begin Google Analytics**/ /** End Google Analytics**/

Eceng gondok yang memiliki nama ilmiah Eichornia crassipes merupakan tumbuhan air dan lebih sering dianggap sebagai tumbuhan pengganggu perairan. Pertumbuhan populasi Enceng Gondok yang tidak terkendali menyebabkan pendangkalan ekosistem perairan dan tertutupnya sungai. Hal tersebut merupakan salah satu keresahan yang terjadi di Kali Birin,  Klaten, Jawa Tengah.

Namun keresahan tersebut sudah mereda setelah dilakukan Pelatihan Enceng Gondok yang ternyata bisa jadi reaktor cacing yang diadakan oleh Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (Sabtu 4/8/2018). Prosesnya sangat menakjubkan, diawali dengan membuat alat untuk menimbun sampah organik, sebut saja bernama Reaktor. Alat ini cukup sederhana yakni terbuat dari kayu yang memiliki kaki empat buah sebagai penyangga dan dibuat papan keatas yang menjadi tempat untuk menimbun sampah. Alat ini diberi lubang untuk keluar masuknya Oksigen agar dapat menguraikan sampah organik.

Sampah Organik bisa dimasukan ke dalam alat tersebut secara penuh lalu didiamkan selama kurang lebih sekitar empat puluh hari. Selama empat puluh hari sampah akan terurai menjadi kompos oleh berbagai jenis hewan atau renik (mikroorganisme) dan selama itu pula pampatan sampah tercetak dalam selimut reaktor. Kompos akan keluar dari reaktor cacing melalui selimut reaktor atau permukaan pampatan sampah dibawah selimut reaktor. Cacing akan Nampak pada pagi hari diatas pampatan sampah tersebut.

Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo memberikan bantuan alat reactor ini kepada masyarakat sekitar Kali Birin. Melalui pelatihan ini diharapkan para peserta dapat mengetahui potensi Enceng Gondok di Kali Birin untuk dijadikan Reaktor Cacing sehingga sampah-sampah di Kali Birin dapat bersih dan kelestarian Kali Birin tetap terjaga (DATIN BBWSBS/sita).