/**Begin Google Analytics**/ /** End Google Analytics**/

Ekspedisi Pacitan

Proses konstruksi tidak lepas dari sebuah perencanaan desain. Desain yang matang harus sudah memprediksi dan memberikan gambaran terkait aspek teknis maupun non teknis. Salah satu tahapan penting penyusunan desain adalah dengan survey lapangan untuk mendapatkan gambaran kedua aspek diatas.

Pacitan merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Timur dengan jumlah penduduk sekitar 599.476 jiwa. Kabupaten Pacitan mempunyai visi misi meningkatakan kualitas hidup dan membangun perekonomian masyarakat dengan didukung ketersediaan infrastruktur yang memadai. Salah satu permasalahan yang ada di Kab Pacitan adalah ketersediaan air terutama air baku dan keperluan irigasi.

Embung merupakan salah satu infrastruktur yang dapat mendukung pemenuhan kebutuhan tersebut diatas. Di tahun anggaran 2018 ini BBWS Bengawan Solo melalui PPK Perencanaan dan Program, Satker BBWS Bengawan Solo berusaha mengakomodir permasalahan tersebut melalui Paket Perencanaan Identifikasi dan DD Embung di Kab. Pacitan.

Seperti diwartakan, Rabu (18/7/2018) Kepala Seksi Perencanaan Umum Gadhang Swastyastu S.T, M.Eng dan PPK Perencanaan Program Ery Suryo Kusumo S.Pd, MT berkunjung ke Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Kab Pacitan dalam rangka koordinasi perencanaan desain embung-embung.

Kunjungan dilanjutkan dengan melakukan survey ke beberapa lokasi didampingi perangkat desa yakni di daerah Punung, Kebonagung, Ngadirojo dll. Nantinya dari beberapa embung tersebut akan dikerucutkan menjadi 3 (tiga) embung prioritas yang akan di detail desain. Sebelum mengakhiri kunjungan, rombongan tim BBWS Bengawan Solo menyempatkan diri ke Badan Kesbangpol Kab Pacitan guna konsolidasi perkembangan aspek sosial terkait pembangunan Waduk Wadah (DATINBBWSBS/sita-edy)

Menlu Belanda Kunjungi Bendungan Tertua di Indonesia

Menteri Luar Negeri Kerajaan Belanda H.E Stef Blok melakukan kunjungan ke Bendungan Prijetan, Lamongan, Jawa Timur (04/06/18). Kunjungan ini merupakan kunjungan bilateral resmi Menlu  Belanda pertama dibidang sumber daya air dan bersejarah.

“Bendungan merupakan prasarana sumber daya air yang memiliki nilai investasi tinggi dan mempunyai fungsi vital bagi kehidupan manusia seperti penyediaan air baku, irigasi dan PLTA. Bendungan Prijetan ini merupakan Bendungan yang umurnya lebih dari 100 tahun,” ungkap Muhammad Arsyadi, selaku Sekretaris Direktorat Jenderal SDA Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Dalam akhir sambutannya Setditjen SDA mengucapkan terima kasih atas kedatangan Menteri Luar Negeri Kerajaan Belanda ke Waduk Prijetan, “semoga dapat memberikan kenangan/memorial terhadap keluarga (kakek) yang pernah ikut berperan dalam pembangunan Waduk ini serta semoga juga dapat memberikan gambaran terkait pengelolaan Sumber Daya Air di Indonesia guna meningkatkan kerjasama diantara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Kerajaan Belanda,” ucap Arsyadi.

“Ini selalu terasa spesial bagi seorang Menteri Luar Negeri Kerajaan Belanda untuk mengunjungi Indonesia karena kita memiliki hubungan yang spesial dan juga memiliki masa depan yang cerah untuk bekerja bersama. Saya senang sekali dapat melakukan perjalanan kesini dan melihat perkembangan disini. Khusunya bagi saya pribadi, masa lalu dan masa depan datang bersama  karena kakek kami dulu bekerja di Kementerian Pekerjaan Umum yang melaksanakan pembangunan Bendungan Prijetan ini” Jelas H.E Stef Blok dalam sambutannya.

Dalam kunjungan ini turut hadir Bupati Lamongan dan jajarannya serta kelompok tani yang menggunakan pengairan irigasi dari Waduk Prijetan. Rombongan juga menyempatkan untuk berziarah ke makam yang berada di dekat Bendungan Prijetan. Makan tersebut merupakan makan Mevr. JF A Dligoor yang merupakan salah satu leluhur Menlu Belanda.

Bendungan Tertua Di Indonesia

Bendungan Prijetan dibangun sejak tahun 1910 – 1916, pada saat itu yang menjadi pelaksana pembangunannya adalah : Tuan Dligur, Tuan Birman, Tuan Deles dan Tuan Ireng. Waduk Prijetan terletak di Desa Girik Kecamatan Ngimbang, Desa Tenggerejo dan Desa Mlati Kecamatan Kedungpring, Kabupaten Lamongan.

Waduk Prijetan dengan luas tampungan 231 Ha, dulunya mampu menampung air dengan volume + 12.000.000 m3. Namun sekarang hanya mampu menampung + 9.750.000 m3. Areal baku sawah yang dilayani seluas 4.513 Ha meliputi 33 desa. Adapun daerah yang diairi terdiri dari 3 Kecamatan yaitu : Kec Kedungpring, Kec. Sugio dan Kec. Modo.

(DATIN BBWSBS/maw-sta)

Peninjauan Bendungan Wonogiri Bersama Sekertariat Dewan SDA

Dalam rangka peningkatan kapasitas SDM Sekretariat Dewan SDA Nasional untuk pengelolaan SDA melakukan peninjauan Bendungan Wonigiri (Sabtu 30 Juni 2018).

Setelah tiba di lokasi Gardu Pandang, seluruh anggota Sekretariat Dewan SDA Nasional melihat kondisi Waduk.  PPK DSE BBWS Bengawan Solo Abdul Mahmud S.T, M.T selaku pendamping memberikan penjelasan tentang sejarah singkat, fungsi, dan kondisi.

“Selain fungsi utama Bendungan Wonogiri sebagai pengendali banjir juga dimanfaatkan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), sumber untuk air minum, serta irigasi pertanian,” jelasnya.

“Sekarang yang menjadi masalah adalah sedimentasi dan penyumbang paling besar sedimentasi dari beberapa anak sungai adalah Sungai keduang untuk itu dilakukan pengelolaan Daerah Aliran Sungai di Daerah Tangkapan Air untuk mengurangi sedimentasi,” tambahnya.

Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi, menurut Kepala Perencanaan dan Program Sekretariat Dewan SDA Nasional Faliansyah S.T, M.Dev.Plg, setelah melihat kondisi Bendungan Wonogiri sampai saat ini dilihat dari umur rencana dengan kapasitas tampung waduk sebenarnya cukup baik, tapi permasalahan utama adalah sedimentasi.

Peninjauan dilanjutkan dengan melihat Checkc Dam kecil dan Watershed di Desa Jatirejo dan Desa Tempursari (DATINBBWSBS)

Diatas Getek, Tasyakuran dan Doa Bersama di Rawa Jombor Dilaksanakan

Dengan telah selesainya kerja bakti pembersihan Eceng Gondok di Kawasan Rawa Jombor hari ini Minggu (13/05/18) dilaksanakan Tasyakuran dan Doa Bersama Komunitas Peduli Rawa Jombor. Acara ini dihadiri oleh Bupati Klaten Sri Mulyani, Sekda Jawa Tengah Sri Puryono, Direktur OP SDA Kementerian PUPR Agung Djuhartono dan Kepala BBWS Bengawan Solo Charisal A. Manu.

Pada kesempatan kali ini juga dilaksanaan ikrar dan komitmen bersama antara komunitas, akademisi dan para pemangku kepentingan agar menjaga dan melestarikan Rawa Jombor untuk pembangunan berkelanjutan, bertekad memberdayakan sumber daya dan lingkungan untuk kesejahteraan masyarakat, serta bersedia melaksanakan penataan rawa jombor bersama pemerintah, akademisi, swasta dan pemangku kepentingan lainnya.

Kepala BBWS Bengawan Solo mengatakan pengembangan Rawa Jombor kedepannya diharapkan tidak hanya aspek pariwisata tetapi ketika sudah bersih dapat digunakan juga untuk pemenuhan air baku, “kita tata kedepan dengan satu masterplan yang sudah makro, akademisi terlibat, bidang lingkungan terlibat, semua terlibat untuk mewakili seluruh kepentingan, baik masyakart itu sendiri, baik dari aspek lingkungan, baik dari kami sendiri sebagai pihak pengelola,” ujar pria yang akrab disapa Roga ini.

Charisal juga mengatakan perlu waktu minimal 5 tahun untuk melakukan pengembangan dan penataan yang mendetail, “kalau penataan ini pasti 5 taun karena itu jangka panjang untuk mengedukasi pelaksanaan kegiatan ini, masyakarat sudah tahu mereka sudah siap untuk itu, tetapi tentu penataan untuk mereka itu perlu waktu yang panjang, tapi secara keseluruhan (perlu dipikirkan) jalan lintasnya seperti apa, bagaimana mungkin nanti ada penataan lampu-lampu warna-warni untuk malam hari dan bisa juga dibuat air mancur yang mengikuti irama musik,” kata Charisal. (DATIN BBWSBS/maw,ingga,agus)

Pembangunan SPAM Regional Wosusokas Mendukung (MDGs)

Pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Regional Wosusokas akan melayani kebutuhan masyarakat perkotaan di bidang air minum yang sehat, aman dan terjamin di lima daerah kabupaten dan kota di Jawa Tengah, yaitu Kabupaten Wonogiri, Sukoharjo, Kota Solo (Surakarta), Kabupaten Karanganyar dan Sragen.

Pertemuan di Balai Kota Surakarta (18/4/2018) dihadiri oleh perwakilan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Solo, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, Peneliti dari Jerman dan Jajaran Staff Pemerintah Kota Surakarta membahas tentang Kemajuan Proyek tersebut.

Dalam pertemuan dijelaskan bahwa Pembangunan SPAM Regional tersebut merupakan upaya ketersediaan air baku dan Pencapaian target Milenium Development Goals (MDGs), Cakupan pelayanan Akses Aman Air Minum tahun 2016: Wonogiri ±78,38%, Sukoharjo ±70,97%, Solo 81,85% dan Karanganyar 70,97% yang diperkirakan akan semakin dibutuhkan dimasa mendatang.

Salah satu Peneliti dari Jerman mengatakan “Peningkatan jumlah penduduk dan aktivitasnya mengakibatkan makin sulitnya pelayanan air minum karena ketebatasan kapasitas, oleh karena itu diperlukan SPAM yang layak”. Terganggunya siklus hidrologi dan terbatasnya sumber air baku juga merupakan salah stau latar belakang pembangunan SPAM Wosusokas ini. Pertemuan dilanjutkan dengan mengunjungi Lokasi SPAM Regional Wosusokas di Desa Sendang, Kelurahan Wuryorejo, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri. (DATIN BBWSBS/sita)

Inovasi Gate Panel Bendung Karet Pertama di Indonesia

SOLO—Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Imam Santoso mengatakan teknologi gate panel di Bendung Karet Tirtonadi, Solo adalah yang pertama di Indonesia. Keunggulan teknologi tersebut di antaranya waktu pengoperasian singkat, mampu melindungi air blader dari material sungai, perubahan suhu ekstrim dan vandalisme.

Di samping itu, gate panel juga lebih efisien karena dengan tinggi air blader 160 sentimeter, mendapat tinggi maksimal pembendungan 305 sentimeter. Hal itu membuat tampungan airnya mencapai satu juta meter kubik. Sementara pada kondisi flat, ketebalan hanya 32 sentimeter sehingga tidak menghalangi aliran.

“Jika gate panel ini berhasil di Bendung Karet Tirtonadi, maka akan diterapkan juga di bendung-bendung lain di Indonesia. Terutama yang aliran sungainya dipenuhi batu. Ini untuk proteksi bendungnya, agar tidak jebol. Batu-batu di sungai wilayah Indonesia Timur kan bisa merusak bendung. Adanya gate panel plat baja diharapkan bisa meminimalisir kerusakan,” kata dia, saat melakukan kunjungan ke paket penanganan banjir Solo, Sabtu (4/11/2017)

Dalam kunjungannya ke Solo, Imam berpesan agar pelaksanaan proyek penanganan banjir Solo dipercepat. Khusus Bendung Karet Tirtonadi yang pembangunannya mencapai 68%, ia meminta penambahan bangunan ikon Solo di sekitar Bendung. Ia mencontohkan proyek Restorasi Cikapundung yang telah berhasil menjadi ciri khas Bandung.

“Penginnya nanti ada pengembangan jembatan kaca yang membentang di atas Bendung Karet. Ini belum pernah ada kan di Indonesia? Nah adanya ikon ini bisa menarik wisatawan. Masyarakat bisa berwisata, karena nantinya di sekitar bendung juga akan ditata menjadi ruang terbuka yang dilengkapi panggung,” ungkap Imam. Harapannya, pembangunan Bendung Karet lengkap dengan ikon local wisdom rampung digarap akhir 2018 mendatang.

Kementerian PUPR Targetkan 65 Bendungan Selesai di 2022

SOLO—Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA) menargetkan 65 waduk dan bendungan terbangun di periode 2015-2022. Hal itu terungkap dalam Seminar Peluang dan Tantangan Pembangunan Bendungan Guna Menunjang Ketahanan Nasional, di Hotel Novotel, Solo, Sabtu (4/11).

Direktur Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Kementerian PUPR Imam Santoso menyampaikan pembangunan waduk dan bendungan tersebut menjadi salah satu prioritas yang dikebut Kementerian PUPR. Selain 65 waduk dan bendungan di seluruh Indonesia, pemerintah juga membangun jaringan irigasi seluas 1 juta hektare dan rehabilitasi jaringan irigasi seluas 3 juta hektare serta pembangunan 1088 embung dan prasarana pengendalian banjir sepanjang 3080 kilometer.

Kementerian PUPR menargetkan pembangunan waduk dan bendungan tersebut dapat rampung dalam tempo 3-4 tahun. Jika tahun ini memulai pembangunan, maka diharapkan selesai 2020-2022 mendatang. Imam menyebut 65 bendungan tersebut dibangun menyebar di seluruh wilayah Indonesia.

Hal itu sejalan dengan Program Nawacita Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla untuk pemerataan pembangunan. Hingga tahun ini, Kementerian PUPR telah membangun 39 bendungan. Pada 2018 nanti, 9 bendungan di antaranya ditarget selesai. Dilanjutkan Imam, beberapa bendungan yang sudah jadi diantaranya Bendungan Jatigede di Sumedang, Jawa Barat memiliki dampak cukup besar bagi masyarakat.

Selain memenuhi kebutuhan air di Jawa Barat, beberapa daerah rawan banjir seperti Cirebon, Indramayu tidak lagi kebanjiran lagi karena sudah ditahan di Jatigede. Selain itu, pasokan air ke irigasi bertambah karena di bendung rentang dari bendungan Jatigede yang terdapat sekitar 90 ribu hektar sawah yang dilalui aliran air dari Jatigede.

“Pembangunan bendungan ini salah satu upaya memperbaiki perekonomian masyarakat,” kata Imam. Saat ini, Indonesia telah memiliki sekitar 230 bendungan. Dari jumlah tersebut, baru sekitar 11 persen dari 7,4 juta hektar lahan sawah irigasi yang terlayani.

Sementara, bila 65 proyek bendungan itu rampung, diperkirakan presentase hanya bertambah 8 persen, menjadi 19 persen dari 7,4 juta hektar lahan. Itu artinya, baru sekitar 1,41 juta hektar lahan yang terlayani irigasi saat seluruh proyek bendungan itu rampung.

“Tanpa bendungan, petani mungkin hanya bisa panen 1-2 kali dalam setahun. Sementara, dengan bantuan bendungan, panen dapat dilakukan sampai 3 kali. Kalau dikalikan produknya berapa dalam ton, kan bisa dikali 2 atau 3 kali lagi,” sebutnya.

Dengan bertambahnya jumlah panen yang ada, produksi padi dan tanaman lainnya pun akan semakin meningkat. Dengan demikian upaya pemerintah dalam mewujudkan program ketahanan pangan akan selangkah lebih mudah.

Imam mengatakan pembangunan puluhan bendungan dan waduk tersebut bakal menyesuaikan kearifan lokal daerah setempat. Pasalnya, selain berfungsi sebagai penahan air, bendungan juga dapat menjadi destinasi wisata baru. “Bisa saja nanti bendungannya berbentuk koteka kalau dibangun di Papua,” kata dia.

Dari target 65 bendungan, 7 di antaranya diproyeksikan berada di Nusa Tenggara Timur (NTT). Kawasan tersebut kerap mengalami kekeringan, sehingga masyarakat kerap mengalami kesulitan air, termasuk irigasi dan pertanian.

“Provinsi ini merupakan yang paling banyak mendapat bendungan selain Jawa Tengah,” kata Imam. Seminar yang menjadi bagian dari rangkaian Gebyar Civil Week 2017 Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo itu dihadiri ratusan mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia dan masyarakat umum.

Imam berharap peserta seminar dapat menjadi bagian dari pembangunan bendungan. Hal tersebut lantaran setiap pembuatan bendungan merupakan proyek tahunan dan melibatkan sedikitnya ratusan pekerja.

Selain Imam, narasumber lain dalam seminar itu yakni Prasetyo Budi Yuwono, Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Jawa Tengah dengan moderator Dosen Fakultas Teknik UNS, Agus Hariwahyudi. Prasetyo dalam paparannya mengungkapkan ihwal pembangunan 1.000 embung di Jawa Tengah.