/**Begin Google Analytics**/ /** End Google Analytics**/

Harapan Menteri PUPR untuk Asian Games 2018

Surakarta- Pada puncak Torch Relay Asian Games 2018di kota Solo, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono berkesempatan menjadi Torch Bareer pada titik finish di Balai Kota Surakarta (19/7/2018).

Sesampainya di Balai kota Menteri Basuki Hadimuljono selaku Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat bersama F.X Hadi Rudiyatmo selaku Wali Kota Surakarta disambut oleh Wakil Wali Kota Surakarta Achmad Purnomo kemudian bersama-sama menyematkan api Torch Relay Asian Games di depan Pendapi Balai Kota Surakarta, dengan menyematkan api ini berarti selesai sudah rangkaian Torch Relay Asian Games 2018 di kota solo

Venue nya sudah siap, lebih dari yang dipersiapkan, kualitasnya standar dunia, minimal Asia. Sekarang tinggal bertanggungjawab untuk meningkatkan prestasi atlet,” Ungkap Basuki.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) berperan sebagai support system dalam pembangunan infrastruktur untuk Asian Games 2018 kali ini yaitu dengan menyajikan infrastruktur yang berstandar Internasional agar memudahkan acara.

“Kami mendukung prasarana dan penyelenggaraannya. Baik untuk transportasi, maupun menggerakan supporter untuk bisa meningkatkan moral dan mental atlet agar bisa mencapai prestasi maksimal”

Basuki juga menegaskan bahwa pada tanggal 31 Juli semua pekerjaan terkait Asian Games 2018 ini selesai karena kontingen sudah mulai masuk. Semoga Perhelatan akbar olahraga antarnegara di kawasan Asia, Asian Games 2018 ini berjalan dengan lancar (DATINBBWSBS/sita-arie).

Semaraknya Torch Relay Asian Games 2018 di Solo

Setelah dibawa berkeliling Yogyakarta, hari ini (19/7/2018) posisi Torch Relay dibawa ke Solo. Dimulai dari Gapura Makutha pada pukul 12.00 WIB Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono membawa lari api Torch Relay yang diserahkan oleh F.X Hadi Rudyatmo. Api tersebut kemudian dinyalakan secara estafet.

Setiap Torch Bearer secara estafet berlari sejauh kurang lebih sekitar 500 meter dan akan dilakukan pergantian Torch Bearer di setiap titik. Torch Bearer kali ini diantaranya adalah Nurul Faradila, Nur Iskak Al Jufri, Melanie Putria Dewi, Haris Nugroho, Letjen TNI (PURN) Agus Widjojo (Gubernur Lemhannas , Roni Syaifullah, Loise Obelina, Fransisca Valentina, Jendral Budi Gunawan (Kepala BIN), Rocky Putirai, Erik Tohir (Ketua Indonesian Asian Games Organizing Commite), Mr Li Ning (Direktur PT Grenfoodindo), Kol Inf I Ali Ikhwan (Dandim 0753 Surakarta), Endang Sri Lestari, Dian Sastro Wardoyo (PT Samsung), F.X Hadi Rudyatmo (Wali Kota Surakarta) dan pada finishing Basuki Hadimuldjono (Menteri PUPR).

Estafet Torch Relay dilakukan dibeberapa titik seperti Depan Gedung DPRD Surakarta, Kantor Pos Jajar, Solo Sehat, SPBU Manahan, Lokananta, Rumah Makan Madukoro, Jiwasraya Slamet Riyadi, Tugu Tabanas Purwosari, PLN Purwosari, Satlantas, Grapari Telkomsel, Loji Gandrung, Sriwedari,Bank BTN, Ngarsopuro, Toko Elektronik Keprabon, Bundaran Gladak, Tugu Pemandengan dan finish di Balai Kota Surakarta.

Api yang berkobar dalam Torch Relay ini adalah api yang berasal dar india. yaitu Stadion Nasional Dhyan Chand di New Delhi, tempat Asian Games pertama kali digelar di India. Api ini dibawa ke Indonesia dengan menggunakan pesawat dan terus menyala di dalam tinder box. Saat tiba di Indonesia, api tersebut disatukan dengan api mrapen yang berasal dari Grobokan, Jawa Tengah. Api tersebut terus menyala yang dibawa dari satu kota ke kota yang lain diseluruh Indonesia.

Filosofi dari api ini adalah semangat yang pertama yang terus dibawa hingga puluhan tahun. Dengan berkibarnya api tersebut diharapkan semangat, gairah dan jiwa sportifitas akan terjaga.

Warga Surakarta sangat antusias menyaksikan Torch Relay, pelajar di Surakarta pulang lebih awal pada pukul 11.00 WIB dan mengisi ruas-ruas jalan untuk menyambut suka cita Asian Games 2018 kali ini. Terlebih saat berada mendekati garis finish di depan Bank Indonesia, saat Menteri PUPR Basuki Hadimuljono berinteraksi dengan anak-anak dan masyarakat.

Puncak dari Torch Relay di Solo kali ini berada di Balai Kota Surakarta, Obor Torch Relay diserahkan oleh F.X Hadi Rudyatmo kepada Mneteri PUPR Basuki Hadimuljono. Kemudian ditutup dengan penyerahan medali kepada seluruh pelari.

Dalam puncak acara terdapat pula pertunjukan tradisional khas Indonesia seperti Tari Lembu Suro, Tari Gambyong, Pertunjukan Musik, Komunitas Olahraga, Komunitas Musik, Artis, Pejabat dari Kalangan Pemerintah, Masyarakat Lokal dan masih banyak lagi.

Semarak Asian Games 2018 di kota Solo sangat terasa. Nampak jelas harapan masyarakat yang menyaksikan agar Asian Games 2018 berjalan dengan lancar dan Indonesia bisa membawa pulang banyak kemenangan (DATINBBWSBS/sita-arie)

 

 

 

Menteri PUPR Kunjungi Bendung Tirtonadi

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono melaksankan kunjungan ke Bendung Karet Tirtonadi (19/7/2018). Rehabilitasi Bendung Karet Tirtonadi yang dilakukan oleh Balai Besar Wilayah Sungai(BBWS) Bengawan Solo menggunakan teknologi gate panel, keunggulan-keunggulan teknologi tersebut diantaranya waktu pengoperasian yang relatif singkat, mampu melindungi air blader dari material sungai, tahan terhadap perubahan suhu ekstrim dan vandalisme.

Kegiatan normalisasi Kali Pepe dilakukan baik di Kali Pepe bagian Hulu maupun Kali Pepe Hilir. Rehabilitasi Bendung Tirtonadi merupakan bagian dari pekerjaan normalisasi Kali Pepe Hulu sepanjang 1.566 meter. Normalisasi termasuk perkuatan tebing-tebing kali yang kritis, pemasangan pintu air dan pompa.

“Pada saat musim kemarau, pintu Bendung akan ditutup, sehingga menjadi long storage yang dapat menampung 1 juta m3 air. Pada musim hujan akan dibuka dengan kapasitas pengaliran air 1.048 m3 per detik, atau lebih besar dari debit awal 390 m3 per detik,” Terang Menteri Basuki

Penanganan Kali Pepe Hulu diharapkan dapat memberi manfaat dalam mengurangi risiko banjir seluas kurang lebih 110 hektar di Kecamatan Banjarsari. Sementara di daerah hilir akan mengurangi risiko banjir seluas kurang lebih 80 hektar di Kecamatan Pasar Kliwon, dan Laweyan.

“Saat ini progres normalisasi Kali Pepe sudah 86%. Diharapkan nantinya dapat difungsikan untuk memenuhi kebutuhan air baku dan sarana rekreasi. Kita lengkapi dengan dermaga, sehingga bisa untuk wisata air di tengah kota. Dulu lebarnya cuma 20 meter, sekarang menjadi 60 meter,” Terang Menteri Basuki.

Sementara untuk pekerjaan Kali Pepe Hilir diantaranya berupa pekerjaan tebing beton sepanjang 10.115 meter di sisi kanan dan kiri mulai dari pintu inlet di ruas Kelurahan Gilingan hingga Pintu Air Demangan, perbaikan pagar, penataan bantaran dan pengerukan badan sungai. Bertindak sebagai Kontraktor pelaksana adalah PT. Basuki Rahmanta Putra dengan nilai kontrak sebesar Rp 121,45 miliar dengan kontrak tahun jamak 2016-2018.

Kota Solo atau Surakarta merupakan dataran rendah dan menjadi pertemuan beberapa sungai, yakni Kali Pepe, Kali Gajah Putih, Kali Anyar, Kali Premulung dan Sungai Bengawan Solo.  Pengendalian banjir Kota Solo sangat penting agar terciptanya suasana kota yang nyaman bagi masyarakat Solo dan sekitarnya (DATINBBWSBS/sita-arie).

Menlu Belanda Kunjungi Bendungan Tertua di Indonesia

Menteri Luar Negeri Kerajaan Belanda H.E Stef Blok melakukan kunjungan ke Bendungan Prijetan, Lamongan, Jawa Timur (04/06/18). Kunjungan ini merupakan kunjungan bilateral resmi Menlu  Belanda pertama dibidang sumber daya air dan bersejarah.

“Bendungan merupakan prasarana sumber daya air yang memiliki nilai investasi tinggi dan mempunyai fungsi vital bagi kehidupan manusia seperti penyediaan air baku, irigasi dan PLTA. Bendungan Prijetan ini merupakan Bendungan yang umurnya lebih dari 100 tahun,” ungkap Muhammad Arsyadi, selaku Sekretaris Direktorat Jenderal SDA Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Dalam akhir sambutannya Setditjen SDA mengucapkan terima kasih atas kedatangan Menteri Luar Negeri Kerajaan Belanda ke Waduk Prijetan, “semoga dapat memberikan kenangan/memorial terhadap keluarga (kakek) yang pernah ikut berperan dalam pembangunan Waduk ini serta semoga juga dapat memberikan gambaran terkait pengelolaan Sumber Daya Air di Indonesia guna meningkatkan kerjasama diantara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Kerajaan Belanda,” ucap Arsyadi.

“Ini selalu terasa spesial bagi seorang Menteri Luar Negeri Kerajaan Belanda untuk mengunjungi Indonesia karena kita memiliki hubungan yang spesial dan juga memiliki masa depan yang cerah untuk bekerja bersama. Saya senang sekali dapat melakukan perjalanan kesini dan melihat perkembangan disini. Khusunya bagi saya pribadi, masa lalu dan masa depan datang bersama  karena kakek kami dulu bekerja di Kementerian Pekerjaan Umum yang melaksanakan pembangunan Bendungan Prijetan ini” Jelas H.E Stef Blok dalam sambutannya.

Dalam kunjungan ini turut hadir Bupati Lamongan dan jajarannya serta kelompok tani yang menggunakan pengairan irigasi dari Waduk Prijetan. Rombongan juga menyempatkan untuk berziarah ke makam yang berada di dekat Bendungan Prijetan. Makan tersebut merupakan makan Mevr. JF A Dligoor yang merupakan salah satu leluhur Menlu Belanda.

Bendungan Tertua Di Indonesia

Bendungan Prijetan dibangun sejak tahun 1910 – 1916, pada saat itu yang menjadi pelaksana pembangunannya adalah : Tuan Dligur, Tuan Birman, Tuan Deles dan Tuan Ireng. Waduk Prijetan terletak di Desa Girik Kecamatan Ngimbang, Desa Tenggerejo dan Desa Mlati Kecamatan Kedungpring, Kabupaten Lamongan.

Waduk Prijetan dengan luas tampungan 231 Ha, dulunya mampu menampung air dengan volume + 12.000.000 m3. Namun sekarang hanya mampu menampung + 9.750.000 m3. Areal baku sawah yang dilayani seluas 4.513 Ha meliputi 33 desa. Adapun daerah yang diairi terdiri dari 3 Kecamatan yaitu : Kec Kedungpring, Kec. Sugio dan Kec. Modo.

(DATIN BBWSBS/maw-sta)

Menteri PUPR Kunjungi Bendo dan Tukul

Memanfaatkan libur Paskah di Jawa Timur, usai peresmian ruas tol Ngawi – Wilangan (29/3), Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono meninjau 2 bendungan yang tengah dibangun, Bendo di Kabupaten Ponorogo dan Tukul di Kabupaten Pacitan.

Pembangunan kedua bendungan dimaksudkan agar jumlah tampungan air di Indonesia terus bertambah sesuai dengan amanat Nawacita untuk memenuhi ketahanan pangan dan ketahanan air. Pembangunan 65 bendungan menjadi Program Strategis Nasional Pemerintah yang dikerjakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

“Salah satu yang tengah dibangun adalah Bendungan Bendo yang kapasitasnya cukup besar, bisa menampung 43 juta m3 untuk suplai irigasi di Kabupaten Madiun dan Kabupaten Ponorogo seluas 7.800 Ha. Ditargetkan selesai akhir tahun 2019,” kata Menteri Basuki saat meninjau pembangunan Bendungan Bendo di Kec. Sawoo, Kab. Ponorogo, Jawa Timur, Jumat (30/3/2018)

Manfaat lainnya untuk air baku sebesar 780 liter/detik, pembangkit listrik 4 MW dan pengendalian banjir Kota dan Kabupaten Madiun. Bendungan dengan tinggi 71 meter membendung Sungai Keyang. Pembangunannya dikerjakan oleh PT. Wijaya Karya, PT. Hutama Karya dan PT. Nindya Karya (KSO) dengan nilai kontrak Rp 709,4 miliar

Kunjungan dilanjutkan ke Bendungan Tukul di Kabupaten Pacitan yang dimulai tahun 2014. Progresnya saat ini sudah mencapai 64% dan ditargetkan rampung pada Juli 2019

Menurut Menteri Basuki tidak ada kesulitan dalam teknik konstruksi bendungan. Tantangannya adalah pada tebing di sekitar lokasi bendungan yang rentan longsor. Oleh karenanya penanganan longsor yang sudah dilakukan akan ditambah dengan pembuatan sabo dam untuk menahan pasir dan batu dari hulu sungai. (Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPR)

Prof. Dr. Ir. Soenarno, Dipl. HE, Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Tahun 2001-2004 Wafat

Segenap keluarga besar Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya Prof. Dr. Ir. Soenarno, Dipl. HE, Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) Periode 2001-2004, dalam usia 75 tahun, pada hari Selasa, 6 Maret 2018 Pukul 00.45 di Rumah Sakit MMC Jakarta.

Pada pukul 09.00 WIB, almarhum diterbangkan ke Solo, Jawa Tengah dan siang harinya akan dimakamkan di Pemakaman Keluarga Astana Banaran Dusun Talang Sawahan, Sukoharjo. Almarhum memiliki seorang istri Hj. Soepanti Soenarno (Almh), 5 orang anak dan 9 orang cucu.

Prof. Dr. Ir. Soenarno, Dipl. HE lahir di Purwodadi, Jawa Tengah 19 Mei 1942, meraih gelar sarjananya pada tahun 1962 dari Fakultas Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada, meraih gelar Dipl. HE dari IHE Delft, Belanda tahun 1977, lalu meraih Doktor bidang Teknik Sipil dari Columbia Pacific University, Amerika Serikat tahun 1982 dan meraih gelar S3 Program Studi Pendidikan Ekonomi Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Negeri Malang (Universitas Negeri Malang) pada tahun 1985.

Beliau menjabat Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah, Kabinet Gotong Royong di bawah Presiden Megawati Soekarnoputri dan Wakil Presiden Hamzah Haz terhitung sejak 18 Agustus 2001 sampai dengan 21 Oktober 2004. Selama berkarir sebagai pegawai negeri sipil hingga menduduki jabatan puncak Kementerian, komitmennya dalam pembangunan infrastruktur dan pengembangan wilayah untuk kesejahteraan masyarakat dirasakan manfaatnya.

Beberapa jabatan penting yang diemban beliau sebelum menjadi Menteri antara lain adalah Pemimpin Proyek Bendungan Karang Kates, Proyek Induk Kali Brantas dan Dirjen Sumber Daya Air Kimpraswil.

Sepanjang karirnya, beliau menerima berbagai penghargaan atas pengabdiannya. Di antaranya, Piagam Penghargaan PELITA II (1980), Satyalancana Pembangunan (1982), Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya 20 Tahun (1995), Tanda Kehormatan Satyalancana Wira Karya (1997), Piagam Penghargaan dalam Pengembangan Reformasi Sistem Pembangunan Prasarana dan Sarana Dasar Pekerjaan Umum (1998), dan Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya 30 Tahun (2000).

Beberapa proyek infrastruktur pada masa kerja Pak Narno, begitu beliau akrab disapa, diantaranya adalah dimulainya pembangunan jalan tol Cikampek Purwakarta Padalarang (Cipularang), dimulainya pembangunan Jembatan Surabaya Madura (Suramadu), peresmian Bendungan Batutegi Lampung dan konservasi Pulau Nipah yang berbatasan dengan Singapura yang sebelumnya terancam hilang.

Pak Narno juga menaruh perhatian besar pada infrastruktur kerakyatan diantaranya membangun sejumlah jembatan yang menghubungkan daerah terpencil. Salah satunya adalah Jembatan Sari di Kabupaten Sragen. Berfungsinya jembatan Sari disambut gembira masyarakat karena sebelumnya menggunakan perahu untuk menyeberangi Sungai Bengawan Solo.

Saat menjabat Menteri Kimpraswil, Pak Narno berperan dalam pembentukan Undang-Undang No. 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung, UU No. 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, UU No. 38 tahun 2004 tentang Jalan dan merintis penyusunan UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, termasuk dengan membentuk unit organisasi Direktorat Jenderal Penataan Ruang.(*)

Biro Komunikasi Publik
Kementerian PUPR

Sekjen PUPR Pimpin Koordinasi Pengelolaan Aset antara Kementerian PUPR dan Perum Jasa Tirta I

Sekretaris Jenderal Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Anita Firmanti Eko Susetyowati melakukan kunjungan ke Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo, Selasa (07/11).

Anita datang sekitar pukul 09.00 WIB di lokasi kantor Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, dalam kunjungannya kali ini ia memimpin koordinasi pengelolaan aset antara Kementerian PUPR (BBWS Bengawan Solo & Balai Sungai Puslitbang SDA) dan Perum Jasa Tirta I dalam rangka Tindak Lanjut Alih Kepengurusan Aset Barang Milik Negara untuk menggunakan kembali sebagian luasan tanah di Pabelan, Sukoharjo, untuk memenuhi tugas dan fungsi BBWS Bengawan Solo.

Kementerian PUPR Targetkan 65 Bendungan Selesai di 2022

SOLO—Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA) menargetkan 65 waduk dan bendungan terbangun di periode 2015-2022. Hal itu terungkap dalam Seminar Peluang dan Tantangan Pembangunan Bendungan Guna Menunjang Ketahanan Nasional, di Hotel Novotel, Solo, Sabtu (4/11).

Direktur Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Kementerian PUPR Imam Santoso menyampaikan pembangunan waduk dan bendungan tersebut menjadi salah satu prioritas yang dikebut Kementerian PUPR. Selain 65 waduk dan bendungan di seluruh Indonesia, pemerintah juga membangun jaringan irigasi seluas 1 juta hektare dan rehabilitasi jaringan irigasi seluas 3 juta hektare serta pembangunan 1088 embung dan prasarana pengendalian banjir sepanjang 3080 kilometer.

Kementerian PUPR menargetkan pembangunan waduk dan bendungan tersebut dapat rampung dalam tempo 3-4 tahun. Jika tahun ini memulai pembangunan, maka diharapkan selesai 2020-2022 mendatang. Imam menyebut 65 bendungan tersebut dibangun menyebar di seluruh wilayah Indonesia.

Hal itu sejalan dengan Program Nawacita Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla untuk pemerataan pembangunan. Hingga tahun ini, Kementerian PUPR telah membangun 39 bendungan. Pada 2018 nanti, 9 bendungan di antaranya ditarget selesai. Dilanjutkan Imam, beberapa bendungan yang sudah jadi diantaranya Bendungan Jatigede di Sumedang, Jawa Barat memiliki dampak cukup besar bagi masyarakat.

Selain memenuhi kebutuhan air di Jawa Barat, beberapa daerah rawan banjir seperti Cirebon, Indramayu tidak lagi kebanjiran lagi karena sudah ditahan di Jatigede. Selain itu, pasokan air ke irigasi bertambah karena di bendung rentang dari bendungan Jatigede yang terdapat sekitar 90 ribu hektar sawah yang dilalui aliran air dari Jatigede.

“Pembangunan bendungan ini salah satu upaya memperbaiki perekonomian masyarakat,” kata Imam. Saat ini, Indonesia telah memiliki sekitar 230 bendungan. Dari jumlah tersebut, baru sekitar 11 persen dari 7,4 juta hektar lahan sawah irigasi yang terlayani.

Sementara, bila 65 proyek bendungan itu rampung, diperkirakan presentase hanya bertambah 8 persen, menjadi 19 persen dari 7,4 juta hektar lahan. Itu artinya, baru sekitar 1,41 juta hektar lahan yang terlayani irigasi saat seluruh proyek bendungan itu rampung.

“Tanpa bendungan, petani mungkin hanya bisa panen 1-2 kali dalam setahun. Sementara, dengan bantuan bendungan, panen dapat dilakukan sampai 3 kali. Kalau dikalikan produknya berapa dalam ton, kan bisa dikali 2 atau 3 kali lagi,” sebutnya.

Dengan bertambahnya jumlah panen yang ada, produksi padi dan tanaman lainnya pun akan semakin meningkat. Dengan demikian upaya pemerintah dalam mewujudkan program ketahanan pangan akan selangkah lebih mudah.

Imam mengatakan pembangunan puluhan bendungan dan waduk tersebut bakal menyesuaikan kearifan lokal daerah setempat. Pasalnya, selain berfungsi sebagai penahan air, bendungan juga dapat menjadi destinasi wisata baru. “Bisa saja nanti bendungannya berbentuk koteka kalau dibangun di Papua,” kata dia.

Dari target 65 bendungan, 7 di antaranya diproyeksikan berada di Nusa Tenggara Timur (NTT). Kawasan tersebut kerap mengalami kekeringan, sehingga masyarakat kerap mengalami kesulitan air, termasuk irigasi dan pertanian.

“Provinsi ini merupakan yang paling banyak mendapat bendungan selain Jawa Tengah,” kata Imam. Seminar yang menjadi bagian dari rangkaian Gebyar Civil Week 2017 Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo itu dihadiri ratusan mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia dan masyarakat umum.

Imam berharap peserta seminar dapat menjadi bagian dari pembangunan bendungan. Hal tersebut lantaran setiap pembuatan bendungan merupakan proyek tahunan dan melibatkan sedikitnya ratusan pekerja.

Selain Imam, narasumber lain dalam seminar itu yakni Prasetyo Budi Yuwono, Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Jawa Tengah dengan moderator Dosen Fakultas Teknik UNS, Agus Hariwahyudi. Prasetyo dalam paparannya mengungkapkan ihwal pembangunan 1.000 embung di Jawa Tengah.

Sidak Menteri PUPR

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Proyek Penanganan Banjir Kota Solo Paket II di Jembatan Jurug, Kecamatan Jebres, Solo, Minggu (29/10). Basuki datang ke lokasi proyek di bawah Jembatan Jurug sekitar pukul 11.30 WIB. Ia sempat mengecek data pekerjaan yang terpampang dan mengapresiasi perkembangannya, termasuk memuji kualitas beton parapet dikerjakan kontraktor.

Pria 62 tahun itu mengatakan agendanya ke Solo hanya untuk mengecek perkembangan proyek. Selain ke Proyek Penanganan Banjir Kota Solo, ia juga mengecek dua paket pengendalian banjir lain. Paket itu adalah Paket I di hilir Kali Pepe atau ruas sungai di wilayah Tirtonadi-Pintu Air Demangan dan Paket III atau hulu Kali Pepe di Bendung Karet Tirtonadi.
“Ini sudah lebih dari schedule (jadwal), mudah-mudahan selesai,” kata dia mengomentari proyek di Jurug. Selain menggelar sidak di Kota Solo, Basuki juga singgah ke Kecamatan Kerjo, Karanganyar, lokasi pembangunan Waduk Gondang. Ia menyebut proyek itu juga menjadi salah satu yang terus dimonitor presiden. “Itu (Waduk Gondang) juga dimonitor oleh Presiden. Kami akan selesaikan 2018. Mudah-mudahan selesai 2018,” kata dia.

Kepala Proyek Penanganan Banjir Kota Solo Paket II dari PT Wika-Apta KSO, Eko, memaparkan proyek yang dikerjakannya saat ini sudah terealisasi 67 persen. Realisasi tersebut telah 15 persen lebih tinggi dibandingkan target. Pengerjaan itu mecakup wilayah Kecamatan Jebres dan Kecamatan Pasar Kliwon.
”Dalam perencanaan, target yang harus dicapai hingga 27 Oktober 2017 adalah 52 persen. Kami sudah mengerjakan dengan persentase lebih tinggi dibanding target tersebut,” kata dia. Sesuai kontrak, proyek paket II itu harus berakhir pada November 2018. Namun, pihaknya bakal mengebut untuk mempercepat penyelesaian garapan parapet dan revetment.
Eko mengatakan proyek di Jembatan Jurug menyisakan 120 meter parapet yang belum selesai. Selain itu, masih ada pengerjaan empat pintu air dan empat rumah pompa. Parapet beton tersebut merupakan upaya peningkatan kapasitas tanggul Bengawan Solo dari semula dapat menampung aliran sungai 10 tahun menjadi 50 tahun.
Dari total parapet sepanjang 5.500 meter, kontraktor sudah menyelesaikan 3.400 meter. Proyek yang menelan dana sekitar Rp200 miliar itu bakal menggunakan pintu air manual. Saat permukaan air Bengawan Solo tinggi, pintu air akan ditutup. Air dari Kota Solo akan dialirkan ke sungai menggunakan dipompa.
“Di Jurug ini total ada empat pompa. Tiga pompa berkapasitas 250 liter per detik dan satu pompa berkapasitas 500 liter per detik,” pungkasnya.