/**Begin Google Analytics**/ /** End Google Analytics**/

Rencana Lokasi Waduk Jlantah

Jajaran BBWS Bengawan Solo melakukan rapat dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang dihadiri Kepala Kanwil BPN Provinsi  Jawa Tengah, BAPPEDA LITBANG Provinsi Jawa Tengah di Ruang Rapat Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman Provinsi Jawa Tengah  terkait Dokumen Perencanaan Pengadaan Tanah. Rombongan Bbws Bengawan Solo yg dipimpin oleh Kepala Bidang Pelaksanaan Jaringan Sumber Air Heriantono Waluyadi selaku Heriantono Waluyadi, ST., MT  menyampaikan bahwa saat progress persiapan pembangunan Waduk Jlantah masih dalam tahap pelelangan baik untuk konstruksi maupun supervisi, dan rencana di awal November dapat terkontrak.

Ditambahkan oleh Ery Suryo Kusumo, S.Pd., MT selaku PPK Perencanaan Program bahwa Waduk Jlantah ini dibangun multi purpose selain sebagai penyediaan air baku, juga utk penyediaan irigasi baik berupa irigasi baru maupun peningkatan irigasi eksisting serta PLTMH. Waduk Jlantah yang nantinya akan dibangun berada di desa Tlobo & Desa Karangsari, Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar, memiliki tinggi bendungan mencapai 70m serta tampungan efektif 8,3jt m3.

Adapun kesiapan terkait dokumen perencanaan pengadaan tanah nantinya akan terus berkoordinasi dengan BPN Karanganyar maupun tim sekretariat (BBWSBS/sita).

PKM Tahap 2 Identifikasi dan DD Embung di Kabupaten Pacitan

Setelah dilakukan PKM Tahap 1 beberapa waktu lalu dan melakukan survey terkait 10 prioritas potensi embung per Kecamatan, Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo kembali mengadakan Pertemuan Konsultasi Masyarakat Identifikasi dan DD Embung di Kabupaten Pacitan (Jum’at 19 Oktober 2018).

“Kami sangat bersyukur atas survey yang telah dilaksanakan dan hasil yang diperoleh, oleh karena itu kepada Bapak-bapak yang ingin memberikan saran dan rekomendasi dipersilahkan” Kata Cicik Roudhlotul Jannah,S.T,MM selaku Kepala Bidang Ekonomi SDA dan Infrastruktur Bappeda Pacitan.

Setelah dilaksanakan survey diperoleh hasil 3 besar embung prioritas yaitu Embung Sumber di Kecamatan Punung, Embung  Boto di Kecamatan Donoharjo dan Embung Klepu di Kecamatan Tulakan. “Masyarakat didesa kami sangat responsif terhadap pembangunan embung ini, namun kami berharap agar pembangunan embung ini memperhatikan aspek konservasi dan kondisi lahan secara fisik”

Pesan Camat Kecamatan Punung. Pacitan sebagai daerah yang dilewati pegunung seribu merupakan daerah krass yang menyebabkan memiliki merupakan daerah krass yang menyebabkan memiliki kondisi geografis dan geologis yang spesifik. Oleh karena itu pembangunan embung ini diharapkan dapat menjadi embung jangka panjang yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar (BBWSBS/sita).

Sosialisasi dan Simulasi Rencana Tindak Darurat Bendungan Prijetan dan Gondang

Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo menyiapkan sejumlah langkah antisipasi melalui Rencana Tindak Darurat jika Bendungan Prijetan dan Bendungan Gondang mengalami kegagalan konstruksi. Meskipun saat ini kedua bendungan tersebut dalam kondisi normal, tetap harus dilakukan monitoring secara terus menerus.

Hal tersebut yang melatarbelakangi Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo bersama Pemerintah Kabupaten Lamongan melakukan Sosialisasi dan Simulasi Rencana Tindak Darurat Bendungan Prijetan dan Bendungan Gondang.

Simulasi Rencana Tindak Darurat ini dilakukan selama dua hari pada tanggal 18-19 Oktober 2018 di Balai Desa Mlati, Kecamatan Kedungpring dan Balai Desa Gondanglor, Kecamatan Sugio Kabupaten Lamongan.

Sri Wahyu Kusumastuti, ST. M.Si selaku Sekretariat UPB BBWS Bengawan Solo menjelaskan maksud dari kegiatan ini adalah memberikan panduan dan petunjuk dalam memutuskan suatu tindakan jika terjadi situasi darurat akibat banjjir yang diakibatkan keruntuhan bendungan.

“Sehingga dapat mengenali problem-problem yang mengancam keamanan bendungan, mempercepat respon efektif untuk mencegah terjadinya keruntuhan bendungan, mempersiapkan upaya-upaya untuk memperkecil risiko jatuhnya korban jiwa dan mengurangi kerusakan bila terjadi keruntuhan bendungan,” sambung Wahyu.

Untuk diketahui, Bendungan Prijetan berlokasi di Desa Tenggerejo, Kecamatan Kedungpring dengan tipe bendungan urugan tanah inti beton, dengan kapasitas tampung maksimal 8,20 juta m3.
Sedangkan Bendungan Gondang yang berlokasi di Desa Gondang Lor, Kecamatan Sugio dengan tipe bendungan urugan tanah homogen, dengan kapasitas tampung maksimal 29 juta m3(DATINBBWSBS/charis).

PKM Ke II Studi Pengendalian Sedimen Waduk Tukul

Setelah dilakukan Pertemuan Kosnultasi Masyarakat pada Bulan Mei lalu, Balai besar Wilayah Sungai Bengawan Solo kembali melaksanakan PKM tentang Studi Pengendalian Sedimen Waduk Tukul (Kamis 18/10/2018).

“Saya yakin Waduk Tukul dibangun dengan perencanaan yang baik. Baik secara social ekonomis, geografis, teknis sehingga kami mendukung semuanya” Kata Camat Arjosari dalam sambutannya.

Dalam rangka menjaga dan meminimalisir terjadinya sedimentasi serta merumuskan upaya pengendaliannya dan meminimalisir sedimen yang masuk ke Waduk Tukul  sehingga direncanakan desain pengendali sedimen di hulu waduk.

“Kami akan melakukan evaluasi atas setiap kejadian, termasuk banjir dan longsor yang berkaitan dengan Waduk ini” Kata Gadhang Swastyastu, ST, M.Eng selaku Kepala Seksi Perencanaan Umum BBWS Bengawan Solo.

Waduk yang dapat menyuplai air irigasi untuk sawah seluas 600 hektar, air baku sebesar 300 liter per detik, dan listrik mikrohidro sebesar 2 x 132 kW ini keberadaanya begitu berarti bagi masyarakat Pacitan khususnya di Kecamatan Nawangan dan Arjosari.

“Kita semua berharap agar semua pekerjaan itu tetap memperhatikan analisis dampak lingkungan dan akses jalan tetap bisa dipakai” Pesan salah satu peserta yang merupakan perwakilan dari Dinas Lingkungan Hidup.

Warga masyarakat berharap dapat turut serta dalam kegiatan operasi dan pemeliharaan yang ada (BBWSBS/sita).

Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana

Sungai bengawan solo merupakan salah satu sungai di Indonesia yang hampir setiap tahun menimbulkan bencana banjir di wilayah Provinsi Jawa Tengah maupun Jawa Timur. Dampak kejadian banjir mampu membawa banyak masalah yang menimbulkan kerugian bagi masyarakat.

Sejak disahkanya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 20017 tentang Penanggulangan Bencana, maka telah mengubah paradigma penanggulangan bencana dari perspektif responsif ke preventif salah satunya dengan pengurangan resiko besaran banjir dan kerentanan banjir.

Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo menyelenggarakan Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana, Kamis (18/10/2018) di ruang Sidang Bengawan Solo yang dihadiri oleh pejabat eselon dan kesatkeran. Koordinasi ini sebagai upaya  meningkatkan kesiapsiagaan Satgas Penanggunalan Bencana BBWS Bengawan Solo dalam penanggulangan bencana  secara berkesinambungan.

“Masing-masing lokasi harus cepat dalam memberikan informasi agar dapat berkoordinasi dan memecahkan masalah” Pesan Dra. Nova Dorma Sirait, ST, MT sekaligus memimpiin koordinasi hari ini.

Nova menegaskan bahwa sebentar lagi akan memasuki musim hujan sehingga diperlukan komunikasi yang baik seluruh satgas dari Hulu sampai Hilir agar ketika sewaktu-waktu terjadi bencana kita dalam keadaan siap.

Koordinasi kali ini juga merencanakan pelaksanaan Apel Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana yang akan segera dilaksanakan. Sekaligus penjelasan mengenai aplikasi Early Warning Sistem (EWS) Berbasis Masyarakat secara menyeluruh.

Salah satu bentuk kesiapsiagaan dalam pengurangan resiko besaran banjir dan kerentanan banjir   adalah dengan melibatkan peran aktif masyarakat dalam penggunaan aplikasi EWS yang merupakan aplikasi yang dapat memotret kejadian banjir disuatu wilayah dengan lebih cepat/real time (BBWSBS/maw-sita).

Sosialisasi Strategi Keterpaduan Pengelolaan Air Tanah Dalam Mengatasi Kekeringan di WS Bengawan Solo

Indonesia merupakan negara yang lokasinya berada di atas garis khatulistiwa sehingga membuat Indonesia hanya memiliki dua musim, yakni musim kemarau dan musim pengghujan. Selain itu Indonesia merupakan negeri yang memiliki karakteristik geografis rawan bencana, baik itu bencana gempa bumi, banjir maupun kekeringan.

Bencana banjir merupakan bencana yang bersifat cepat dengan jumlah korban yang langsung terlihat cepat pula sehingga reaksi penanganannya dapat dilaksanakan dengan cepat. Lain hal nya dengan bencana kekeringan yang bersifat lebih lambat dalam tempo yang lama, sehingga lambat juga dalam reaksi pemasokan airnya.

Hal tersebut melatarbelakangi Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo dalam melakukan Sosialisasi Strategi Keterpaduan Pengelolaan Air Tanah Dengan Mengembangkan Sistem Informasi Sumur Air Tanah Dalam Mengatasi Kekeringan di Wilayah Sungai Bengawan Solo, Rabu (17/10/2017).

“Semoga apa yang kita rancang pada hari ini dapat berlajan dengan lancar dan mendapat manfaat yang optimal, mengingat permasalahan kekeringan merupakan permasalahan yang krusial” Kata Ir. Budi Sucahyono, M.Si sekaligus membuka acara sosialisasi hari ini.

Sosialisasi kali ini dimoderatori oleh Ir. Isgiyanto, MT selaku Kepala Bidang Pelaksanaan Pemanfaatan Sumber Air (PJPA) Bengawan Solo dengan narasumber Dr. Ir. TB Hisni M.Si yang memberikan materi tentang Mengatasi Kekeringan di Suatu Daerah, Dr. Agung Setianto yang menyampaikan materi tentang Keterpaduan Sistem Informasi Air Tanah Wilayah Sungai Bengawan Solo dan Ir. Windarto yang menyampaikan materi tentang Keterpaduan Pengelolaan Air Tanah Di Wilayah Sungai Bengawan Solo.

Narasumber menjelaskan materi secara teoriris, memberikan contoh aplikatif di lapangan, menceritakan permasalahan yang terjadi selama ini dan memberikan solusi. Hal tersebut membuat para peserta aktif bertanya dan memberi saran.

“Di wilayah kami di Gresik apabila musim hujan kerap terjadi banjir dan saat musim kemarau sering kekeringan, kami berharap agar diberi pelatihan terkait cara penangannya agar kami bisa menyampaikan pada masyarakat” Kata Gunawan.

Harapan Kedepannya

Dengan dilaksanakannya acara ini dan beberapa rangkaian acara kedepan diharapakan tersedianya informasi yang akurat dan terkini mengenai data kondisi sumur air tanah dengan sistem geografis sehingga dapat melakukan upaya penanganan kekeringan dan pada akhirnya dapat melakukan  Pengelolaan Air Tanah yang terintegrasi dengan air permukaan untuk menjamin tingkat layanan terjaga sesuai tuntutan masyarakat dan berfungsi secara berkelanjutan (DATIN BBWSBS/maw,sita).

Sidang Pleno & Sidang Komisi TKPSDA WS Bengawan Solo

Sekretariat TKPSDA Wilayah Sungai Bengawan Solo mengadakan Sidang Pleno III Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai (TKPSDA WS) Bengawan Solo (10-11 Oktober 2018) di The Adhiwangsa Hotel Solo.

Sidang yang dihadiri oleh seluruh Anggota TKPSDA Wilayah Sungai Bengawan Solo ini terdiri dari Sidang Pleno, Sidang Komisi 1 yang membahasa tentang Konservasi dan Pemberdayaan Masyarakat , Sidang Komisi 2 yang membahas tentang Pendayagunaan Sumber Daya Air dan Sidang Komisi 3 yang membahas tentang Pengendalian Daya Rusak Air dan SIH3.

Hasil Sidang Komisi 1 yang membahas tentang banyak aset sungai yang terbengkelai, belum adanya regulasi yang mengatur masyarakat bahwa masyarakat bisa mengakses prasarana akses sungai dan masih rendahnya partisipasi masyarakat bantaran sungai dalam menjaga sungai. Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan kerjasama yang baik antara pemerintah pusat dan daerah untuk dapat menjaga dan memelihara prasarana akses sungai.

Hasil Sidang Komisi 2 yang membahas tentang kebutuhan air untuk Wosusokas diputuskan bahwa perlunya kajian pola operasi Bendungan Wonogiri terkait suplai air Wosusokas dari 136 m menjadi 137 m.

Hasil Sidang Komisi 3 yang membahas tentang analisis dampak lingkungan dari eksploitasi air di wilayah sungai bengawan solo yang terdampak kecenderungan untuk menaikan normal water level dan menurunkan low water level yang berdampak pada kerusakan infrastruktur bendungan dan sungai diperlukan kajian tentang daya tamping efektif bendungan yang sebelumnya 127-136 terkait dengan pemanfaatan air waduk.

Dalam setiap sub sidang menghasilkan rekomendasi untuk Gubernur, Bupati dan Walikota yang sangat bermanfaat demi mencari solusi dari permasalahan-permasalahan yang dihadapi selama ini demi keberhasilan dan kebermanfaatan pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan (BBWSBS/sita).

Pendayagunaan Air Tanah di Ponorogo

Ketika memasuki musim kemarau bencana kekeringan mengancam beberapa wilayah di Indonesia. Biasanya bencana kekeringan yang terjadi akibat musim kemarau berkepanjangan sehingga membuat cadangan air semakin tipis. Kejadian tersebut bukan pertama kali terjadi bahkan hampir setiap tahunnya sering terjadi bencana kekeringan. Bencana kekeringan juga membuat persediaan air bersih menjadi langka.

Sebagai salah satu upaya memenuhi kebutuhan air baku didaerah yang kekurangan air, BBWS Bengawan Solo, melalui PPK Pendayagunaan Air Tanah (PAT) melakukan pembangunan penyediaan air tanah untuk air baku sebanyak  10 titik yang terletak di Kab. Klaten, Kab. Sragen, Kab. Karanganyar. Kab. Sukoharjo, Kab. Wonogiri, Kab. Pacitan, Kab. Ponorogo, Kab. Magetan, Kab. Tuban dan Kab. Lamongan.

Pembangunan penyediaan air tanah untuk air baku di Kab. Ponorogo, mendapat kunjungan dari Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo Ir. Charisal Akdian Manu, M.Si didampingi oleh PPK Pendayagunaan Air Tanah Hariyo Priambodo ST, MM dan PPK Operasi dan Pemeliharaan SDA III Wahyana ST, MT. pada hari kamis (11/10/2018).  Lokasi pekerjaan ini tepatnya di Desa Suren Kecamatan Mlarak. Dengan kapasitas pompa sebesar 2,5 liter/detik, dapat menyuplai sebanyak 80 kk atau 320 jiwa.

“Meski sudah lancar semua tetap harus hemat, di desa saya dulu air mahal, ambilnya jauh. Makanya teman-teman disini yang sudah dipermudah harus menjaga air dengan baik” Kata Charisal dengan senang.

Pengelolaan Air Tanah ini tidak lepas dari dukungan pemerintah desa, gabungan kelompok tani, dan warga masyarakat desa setempat. Menutup kunjungan hari ini Charisal dan rombongan juga mengunjungi lokasi P3-TGAI di Desa Siwalan, Kecamatan Mlarak. Dan dilanjutkan kunjungan ke Waduk Bendo yang berlokasi  juga di Kabupaten Ponorogo (DATINBBWSBS/jndr-sita)

 

 

Tes Iva dan Sadanis Untuk Cegah Kanker Lebih Dini

Dalam rangka Bulan Peduli Kanker Payudara Sedunia (Breast Cancer Awareness Month) Dharma Wanita Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Karanganyar, menyelenggarakan Pemeriksaan IVA Test dan SADANIS, Jumat, (12/11/2018).

“Kanker Serviks dan Kanker Payudara merupakan salah satu penyebab kematian perempuan, oleh karena itu kita semua memiliki kewajiban untuk menjaga dengan cara mendeteksi dini. Kita tidak perlu takut karena tugas kita hanya merawat apa yang kita miliki untuk suami kita dan anak cucu kita semua” Pesan Nelly Manu dalam sambutannya.

Acara ini dibuka dengan penyematan selendang khas NTT kepada para petugas kesehatan pada pemeriksaan  IVA Test dan SADANIS hari ini. Sebelum dilakukan pemeriksaan peserta diberikan penyuluhan tentang  IVA Test dan SADANIS.

Kanker Serviks merupakan kanker terbanyak yang diderita oleh perempuan di Indonesia. Kanker ini berawal dari tumor ganas yang mengenai leher rahim dan disebabkan oleh Human Papiloma Virus (HPV). Leher rahim yang terpapar virus HPV berpotensi menjadi kanker dalam waktu 3-17 tahun jika tidak dilakukan tindakan pencegahan. Deteksi dini terhadap penyakit ini dapat dilakukan dengan Tes IVA ( Inspeksi Visual dengan Asam Asetat) yang merupakan pemeriksaan skrining kanker serviks dengan pemberian asam asetat atau asam cuka pada leher rahim selama 1 menit. Pemberian asam asetat ini merupakan metode mudah dan murah namun memiliki tingkat akurasi tinggi untuk menyimpulkan hasil pemeriksaan IVA negatif (normal) atau positif (ada lesi pra kanker). Dalam durasi 60 detik, hasil pemeriksaan akan diketahui jika ada kelainan, yaitu munculnya plak putih pada serviks yang perlu diwaspadai sebagai luka pra kanker. Idealnya, skrining pada wanita usia 35 – 40 tahun wajib dilakukan setiap 3 tahun sekali. Sedangkan bagi wanita yang belum menikah, sangat dianjurkan untuk melakukan vaksin HPV terlebih dahulu.

“Ibu-ibu bisa menjadikan moment Ulang Tahun sebagai waktu untuk memberikan self reward terhadap diri sendiri dengan rutin IVA Test, karena lebih baik tau dari pada terlambat” Jelas salah satu petugas kesehatan.

Kanker payudara juga masuk dalam daftar 10 penyebab kematian terbanyak perempuan di Indonesia. Kita bisa mencegah munculnya penyakit ini dengan melakukan serangkaian pemeriksaan rutin seperti Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) dan Pemeriksaan Payudara Klinis (SADANIS). SADARI dapat dilakukan pada rentang hari ke 7 – 10 setelah hari pertama menstruasi dimana payudara sedang dalam kondisi paling lunak. Langkah awal melakukan SADARI adalah dengan mengamati kondisi payudara, lalu mengangkat tangan sebelah kanan dan raba payudara dengan tangan kiri dari arah pinggir, memutar ke arah putting susu lalu tekan dengan perlahan. Apabila terdapat cairan berwarna merah darah maka bisa saja merupakan indikasi adanya sel kanker. Lakukan gerakan yang sama dalam keadaan berbaring untuk meraba kemungkinan adanya benjolan. Memang, tidak semua benjolan berarti kanker. Namun, apabila menemukan benjolan yang tidak terasa sakit dan muncul selama 2 kali siklus menstruasi, lebih baik datang ke dokter spesialis onkologi untuk dilakukan SADANIS guna menegakkan jenis benjolan yang ada.

Seluruh peserta sangat antusias saat mendengarkan penyuluhan, ada yang aktif bertanya dan bersemangat mengikuti IVA tes dan SADANIS. Semoga dengan adanya acara ini semua bisa terus menjaga kesehatan wanita (BBWSBS/sita).

Kunjungan Bendungan Bendo

Masih dalam rangka kunjungan kerja di Kabupaten Ponorogo, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo Ir. Charisal Akdian Manu, M.Si didampingi oleh PPK Bendungan I R. Panji Satrio S.T., M.T., MDM, PPK Pendayagunaan Air Tanah Hariyo Priambodo S.T, MM dan PPK Operasi dan Pemeliharaan SDA III Wahyana S.T, M.T melaksanakan kunjungan ke  Bendungan Bendo di Sungai Kali Keyang atau dikenal dengan Kali Ngindeng di Dusun Bendo, Desa Ngindeng, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Bojonegoro (Kamis 11/10/2018).

“Semua harus kerja cepat karena 2 bulan lagi (musim hujan), cuaca juga bisa berubah kapan saja jadi harus selalu siap” Pesan Charisal.

Saat ini progress fisik Bendungan Bendo telah mencapai 68,2% dari rencana 67,41. Charisal melakukan rapat internal untuk rencana percepatan Bendungan yang nantinya akan mengairi irigasi seluas 7.800 ha, penyedia air baku sebesar 370 lt/detik dan pengendali Banjir kota Ponorogo ini (BBWSBS/sita)